Jakarta – Jauh sebelum persaingan mobil listrik memanas, raksasa teknologi asal China, Xiaomi, rupanya telah menyiapkan amunisi besar untuk menguasai medan perang baru: kecerdasan buatan (AI). Perusahaan yang dikenal dengan deretan ponsel pintarnya ini mengumumkan rencana investasi masif senilai 60 miliar yuan, atau setara Rp147,1 triliun, untuk pengembangan AI selama tiga tahun ke depan. Langkah ini bukan sekadar ambisi, melainkan sebuah “kebutuhan mendesak” agar perusahaan tetap relevan di tengah pergeseran lanskap teknologi global.
Masa Depan Ada di Tangan AI, Xiaomi Tak Mau Tertinggal
Pendiri Xiaomi, Lei Jun, menegaskan bahwa era baru telah tiba, dan AI adalah kunci untuk beradaptasi. Sejak didirikan pada 2011, Xiaomi telah menjelma dari produsen ponsel menjadi pemain utama di berbagai lini produk, mulai dari tablet, peralatan rumah tangga, hingga kini merambah ke mobil listrik. Namun, pasar AI dipandang sebagai perbatasan berikutnya yang tak boleh dilewatkan.
“Di bidang AI, rencana kami untuk tiga tahun ke depan adalah menginvestasikan setidaknya 60 miliar yuan,” ujar Lei pada acara peluncuran mobil listrik SU7 baru-baru ini. Ia menambahkan, “Tidak diragukan lagi bahwa kita memasuki era baru.” Xiaomi sendiri tak datang dengan tangan kosong. Perusahaan ini telah meluncurkan tiga model AI baru, bahkan sebelum pengumuman investasi besar tersebut, menunjukkan keseriusan dan kecepatan mereka dalam berinovasi.
Dari Chatbot ke Agen AI: Xiaomi Siapkan Perangkat Cerdas Masa Depan
Dorongan Xiaomi di bidang AI, yang dimulai tahun lalu dengan peluncuran model bahasa besar pertamanya, MiMo-V2-Flash, kini dipimpin oleh tim yang didominasi talenta muda. Fokus terbaru mereka adalah pada “agen AI”, sebuah terobosan yang digadang-gadang akan menjadi evolusi berikutnya setelah era chatbot seperti ChatGPT. Agen AI ini mampu menjalankan tugas-tugas kompleks dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari mengirim email hingga memesan tiket pesawat, semuanya atas instruksi pengguna.
Langkah Xiaomi ini sejalan dengan tren yang diambil oleh raksasa teknologi China lainnya yang juga berlomba mengembangkan alat agen AI serupa. Kehadiran teknologi seperti MiClaw, alat AI berbasis ponsel pintar yang memungkinkan pengguna mengontrol perangkat rumah tangga hanya dengan suara, semakin mempertegas ambisi Xiaomi untuk menciptakan ekosistem cerdas yang terintegrasi penuh.
Kini, perhatian tertuju pada bagaimana Xiaomi akan menerjemahkan investasi besar ini menjadi inovasi nyata yang dapat dinikmati oleh konsumen. Kemampuan mereka dalam beradaptasi dan berinovasi di sektor yang sangat kompetitif ini akan menentukan posisi Xiaomi di panggung teknologi global di masa mendatang.
📰 Source: CNN Indonesia Tech