Technology

Rusia Paksa Warganya Tinggalkan WhatsApp, Ganti dengan Aplikasi ‘Max’ Tanpa Enkripsi

hooulra
2 min read

Moskow bersiap untuk mengukuhkan kendali digitalnya. Pemerintah Rusia kini tengah gencar mempromosikan aplikasi pesan instan baru bernama Max, sebuah langkah yang memicu kekhawatiran besar di kalangan pegiat hak digital. Aplikasi yang dikembangkan oleh raksasa media sosial Rusia, VK, ini diposisikan sebagai pengganti aplikasi populer seperti WhatsApp dan Telegram, namun dengan satu perbedaan krusial: Max tidak memiliki enkripsi end-to-end.

Ancaman Privasi dan Kedaulatan Digital

Ketiadaan enkripsi pada Max menimbulkan spekulasi serius mengenai potensi penyalahgunaan data. Baptiste Robert, CEO Predicta Lab, sebuah perusahaan keamanan siber Prancis, memperingatkan, “Setiap data yang melewati aplikasi ini dapat dianggap berada di tangan pemiliknya, dan dalam hal ini, di tangan negara Rusia.” Kekhawatiran ini bukan tanpa dasar, mengingat sejarah Rusia dalam mengontrol informasi digital dan dorongan kuat untuk mencapai “kedaulatan teknologi”. Marielle Wijermars, seorang profesor tata kelola internet, melihat langkah ini sebagai puncak dari kebijakan yang bertujuan merestrukturisasi internet agar lebih mudah dikendalikan oleh negara.

Max: Lebih dari Sekadar Aplikasi Pesan

Diluncurkan pada tahun 2025, Max didesain menyerupai WeChat milik Tiongkok, mengintegrasikan fungsi media sosial, pesan instan, dan akses ke berbagai layanan pemerintah, termasuk sistem identitas digital dan perbankan. Meskipun penggunaan Max tidak diwajibkan secara resmi, pemerintah Rusia secara terang-terangan memberikan sinyal bahwa kehidupan tanpa aplikasi ini akan semakin sulit. Sejak September 2025, Max telah terpasang secara pra-instal pada ponsel dan tablet yang dijual di Rusia. Kampanye promosi yang digambarkan oleh Dmitry Zakharchenko, pendiri lembaga analitik Rusia GRFN, sebagai “agresif” menyerupai papan iklan propaganda era Soviet, dengan perusahaan besar dan sekolah dipaksa mengadopsi platform ini untuk komunikasi internal dan eksternal. Bahkan, selebriti dan blogger populer pun didorong untuk memindahkan konten mereka ke Max.

Langkah Rusia ini bukan hanya tentang mengganti aplikasi pesan, tetapi merupakan bagian dari strategi yang lebih luas untuk membangun ekosistem digital yang terisolasi dari pengaruh Barat. Dengan menjadikan Max sebagai platform utama, Moskow berupaya mengumpulkan data warga secara lebih masif dan mengendalikan narasi informasi di dalam negeri. Keberadaan Max yang tidak tersedia di negara-negara yang dianggap sebagai musuh, seperti Uni Eropa dan Ukraina, semakin mempertegas tujuan geopolitik di balik promosi aplikasi ini. Pertanyaan besarnya kini adalah sejauh mana warga Rusia akan terpaksa mengorbankan privasi mereka demi mengikuti arahan negara, dan bagaimana langkah ini akan memengaruhi lanskap digital global di masa depan.


📰 Source: CNN Indonesia Tech