Technology

Kebijakan Trump Disebut Berisiko Fatal bagi Kesehatan Paru-paru Warga Amerika

hooulra
3 min read

Sebuah studi terbaru yang menggemparkan telah mengungkap potensi dampak mengerikan dari kebijakan era Donald Trump terhadap kesehatan pernapasan masyarakat Amerika Serikat. Analisis mendalam yang dipublikasikan di jurnal bergengsi American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine ini menyajikan temuan yang mengkhawatirkan: serangkaian kebijakan yang diterapkan selama masa jabatan Trump berpotensi memperburuk penyakit paru-paru dan bahkan meningkatkan angka kematian dini.

Serangan Terhadap Paru-paru Publik

Tim peneliti yang dipimpin oleh Dr. Adam Gaffney, seorang spesialis paru dan profesor di Harvard Medical School, mengkaji sepuluh sektor krusial, mulai dari akses layanan kesehatan, regulasi lingkungan, perlindungan pekerja, hingga cakupan vaksinasi. Hasilnya, seperti dilaporkan oleh CNN Indonesia, menunjukkan bahwa kebijakan-kebijakan tersebut secara kolektif dapat meningkatkan insiden penyakit paru-paru, memperparah kondisi yang sudah ada, dan mengganggu perawatan bagi pasien yang sudah berjuang. Dr. Gaffney bahkan menyamakannya dengan “serangan terhadap paru-paru warga Amerika” yang dapat merenggut jutaan nyawa secara prematur di masa mendatang.

Pemotongan Anggaran Kesehatan dan Lemahnya Regulasi Lingkungan

Salah satu poin krusial yang disorot adalah pemotongan anggaran kesehatan masif yang tercantum dalam paket kebijakan pajak dan pengeluaran Trump. Paket yang dikenal sebagai One Big Beautiful Bill Act (OBBBA) ini memangkas lebih dari US$1 triliun dari program-program kesehatan, sebuah angka pemotongan anggaran kesehatan federal terbesar dalam sejarah Amerika. Implikasinya, akses perawatan bagi jutaan orang yang bergantung pada Medicaid terancam, tingkat vaksinasi penyakit pernapasan menurun, dan akses ke perawatan darurat serta obat-obatan menjadi terbatas. “Pengobatan modern menyelamatkan nyawa, dan ketika Anda mencabutnya, hal itu justru membahayakan,” tegas Dr. Gaffney, mengutip The Guardian.

Di sisi lain, selama setahun terakhir pemerintahan Trump, puluhan standar polusi udara dicabut atau dilemahkan. Kebijakan ini, yang mengatur batas emisi partikel halus, merkuri, dan emisi knalpot, diperkirakan akan memicu kasus asma baru dan lonjakan rawat inap akibat penyakit pernapasan. “Di setiap kesempatan, pemerintahan ini lebih mengutamakan potensi keuntungan ekonomi para pencemar daripada udara bersih dan kesehatan pernapasan warga Amerika,” tulis Mary B Rice, salah satu penulis studi tersebut.

Meski Gedung Putih melalui juru bicaranya membantah temuan ini dan mengklaim kebijakan tersebut justru memperkuat program Medicaid, para peneliti tetap yakin bahwa dampak jangka panjangnya akan sangat merugikan. Penundaan proyek energi bersih, dorongan agar pembangkit listrik berbahan bakar fosil terus beroperasi, serta pelobi yang menentang kewenangan California dalam mewajibkan kendaraan listrik, semuanya mengarah pada ancaman polusi udara yang semakin parah, dengan potensi dampak yang “tidak dapat diubah” terhadap kesehatan paru-paru.

Studi ini juga menyoroti risiko lain, seperti penundaan perlindungan bagi penambang batu bara yang terpapar debu silika, pemotongan dana kesehatan masyarakat di CDC dan FDA, serta penurunan cakupan vaksinasi. Semua ini menjadi gambaran suram tentang bagaimana keputusan politik dapat berujung pada konsekuensi kesehatan yang fatal, meninggalkan pertanyaan besar tentang masa depan kesehatan pernapasan generasi mendatang di Amerika Serikat.


📰 Source: CNN Indonesia Tech