Jakarta – Peringatan serius datang dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Laporan terbaru dari Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menunjukkan gambaran yang mengkhawatirkan: jumlah panas yang terperangkap di Bumi mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah. Yang lebih mencemaskan, dampak dari pemanasan ekstrem ini diperkirakan akan membayangi planet kita selama ribuan tahun ke depan.
11 Tahun Terpanas Terjadi dalam Rentang Waktu yang Dekat
Fakta yang diungkapkan dalam laporan tahunan WMO begitu mencengangkan. Sebelas tahun terpanas yang pernah tercatat dalam sejarah pengukuran suhu global seluruhnya jatuh dalam rentang waktu yang relatif singkat, yaitu antara tahun 2015 hingga prediksi untuk tahun 2025. Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, tidak ragu menyebut kondisi ini sebagai “tanda bahaya besar”. Ia menegaskan bahwa iklim dunia sedang dalam kondisi darurat, dan planet ini didorong melampaui batas kemampuannya. “Semua indikator utama iklim menunjukkan tanda bahaya,” ujarnya tegas, menyoroti bahwa melewati 11 tahun terpanas secara berurutan bukanlah kebetulan, melainkan sebuah panggilan mendesak untuk bertindak.
Laut Menjadi Penyimpan Panas Utama, Ancaman Krisis Ganda
Laporan tersebut menguraikan secara rinci ketidakseimbangan energi yang terjadi. Panas matahari yang masuk ke Bumi tidak sepenuhnya dilepaskan kembali ke luar angkasa, sebagian besar terperangkap akibat lonjakan polusi gas rumah kaca seperti karbon dioksida dan metana yang mencapai level tertinggi dalam 800.000 tahun terakhir. Kepala WMO, Celeste Saulo, menjelaskan bahwa aktivitas manusia telah merusak keseimbangan alami ini. Akibatnya, lebih dari 91 persen kelebihan panas ini kini tersimpan di dalam lautan. Suhu air laut pun mencetak rekor tertinggi pada tahun 2025, yang memicu potensi badai tropis lebih kuat dan percepatan pencairan es di kutub. Permukaan air laut global telah naik 11 sentimeter sejak tahun 1993, dan lapisan es di Antartika serta Greenland terus menyusut. Meskipun ada fenomena alam La Nina yang biasanya bersifat pendingin, tahun 2025 diprediksi tetap menjadi salah satu tahun terpanas dengan kenaikan suhu 1,43 derajat Celsius dibandingkan masa sebelum revolusi industri. Pakar WMO, John Kennedy, bahkan memperingatkan potensi lonjakan suhu lebih tinggi lagi pada tahun 2027 jika fenomena El Nino kembali muncul.
Keterkaitan antara krisis iklim dengan situasi global yang dilanda perang dan kenaikan harga bahan bakar juga disorot oleh Guterres. Ia menekankan bahwa ketergantungan manusia pada bahan bakar fosil tidak hanya merusak stabilitas iklim, tetapi juga mengancam keamanan dunia. “Kekacauan iklim terus melaju cepat, dan menunda tindakan berarti mengundang maut,” pungkasnya. Laporan ini menjadi pengingat keras bahwa menunda tindakan nyata untuk mengurangi emisi bukan lagi pilihan, melainkan sebuah keharusan demi keberlangsungan hidup generasi mendatang dan stabilitas planet.
📰 Source: CNN Indonesia Tech