Business

Air Bersih, Harapan Baru dari Pertamina untuk Papua Hingga Korban Bencana

hooulra
3 min read

Di tengah riuh peringatan Hari Air Sedunia, PT Pertamina (Persero) menebar kabar baik yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat di pelosok negeri. Dari lembah hijau Papua hingga kawasan yang porak-poranda akibat bencana, perusahaan energi pelat merah ini tak henti-hentinya menyalurkan komitmennya untuk memastikan akses air bersih bagi mereka yang paling membutuhkan.

Menyibak Kekeringan di Ujung Negeri

Di Kampung Tambat, Merauke, Papua, bertahun-tahun warga berjibaku dengan keterbatasan air bersih. Saat musim kemarau tiba, sumur-sumur tua yang airnya berbau belerang menjadi satu-satunya pilihan, sebuah dilema pahit antara kebutuhan mendesak dan risiko kesehatan. Kepala Kampung Tambat, Samuel Heremba, mengenang masa-masa sulit itu. “Dulu kami sangat mengandalkan tampungan air hujan. Ada sumur, tapi airnya mengandung belerang, kurang aman untuk digunakan,” tuturnya dengan nada getir.

Namun, kini cerita itu mulai berubah. Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), Pertamina hadir dengan solusi jitu: pembangunan sistem sumur bor yang dilengkapi reservoir penampungan dan fasilitas penyaringan air. Perubahan ini disambut gembira. “Kini masyarakat tidak lagi khawatir terhadap kandungan belerang atau kesulitan air saat musim kemarau. Airnya sudah jauh lebih bersih dan penampungannya sangat cukup,” ujar Samuel, senyum sumringah tak bisa disembunyikan dari wajahnya.

Bantuan Air, Napas Kehidupan bagi Penyintas Bencana

Tak hanya di Papua, jejak kepedulian Pertamina juga terasa di Sumatra, wilayah yang baru saja dilanda banjir dan lumpur dahsyat. Bencana tersebut tak hanya merusak rumah, tetapi juga memutuskan akses vital terhadap air bersih. Sebagian warga terpaksa menenggak air parit yang jelas tak layak minum. Menyikapi situasi darurat ini, Pertamina bergerak cepat, membangun 25 sumur baru, menghidupkan kembali 43 sumur warga yang rusak, serta mengerahkan 5 juta liter air bersih melalui truk tangki. Bantuan ini menjadi oase bagi lebih dari 17.000 jiwa.

“Sangat membantu sekali air bersih ini. Sebelumnya kami pakai air parit. Begitu bantuan air ini masuk sekitar dua minggu setelah kejadian, kami benar-benar terbantu,” ungkap Yanti, salah seorang penyintas bencana, lega sekaligus haru.

Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menegaskan bahwa program ini bukan sekadar pembangunan fisik. “Bagi Pertamina, inisiatif air bersih ini bukan sekadar pembangunan infrastruktur fisik, melainkan upaya menjaga martabat kemanusiaan di wilayah yang paling membutuhkan,” katanya. “Program ini menjadi jembatan harapan agar warga di pelosok Papua hingga penyintas bencana di Sumatra bisa mulai menata hidup kembali dengan layak.”

Upaya ini sejalan dengan komitmen Pertamina dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 6 tentang air bersih dan sanitasi layak. Lebih dari itu, inisiatif ini juga berkontribusi pada SDG 11 dan 13, memperkuat ketahanan masyarakat terhadap bencana dan perubahan iklim. Bagi ribuan warga yang terdampak, setiap tetes air jernih yang mengalir adalah bukti nyata hadirnya kepedulian, meresap hingga ke pelosok negeri, membuka jalan menuju kehidupan yang lebih baik dan berkelanjutan.


📰 Source: CNN Indonesia Ekonomi