Jakarta – Di tengah kekhawatiran global akan lonjakan harga minyak mentah yang melampaui US$100 per barel, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati meyakinkan publik bahwa skenario harga minyak dunia menembus US$200 per barel sangat tidak mungkin terjadi.
Siklus Harga Minyak dan Potensi Resesi
Purbaya menegaskan bahwa perkiraan ekstrem tersebut tidak mempertimbangkan dinamika pasar energi yang kompleks. Ia mencontohkan peristiwa serupa pada tahun 2013, di mana para ekonom juga memprediksi harga minyak akan menyentuh US$200 per barel, namun kenyataannya harga justru melonjak hingga US$150 dan kemudian anjlok. “Saya bertaruh sama orang di depan umum, mereka bilang US$200 per barel, saya bilang enggak, (harga minyak) US$150 per barel habis itu jatuh,” tegas Purbaya di Istana Negara, Kamis (19/3).
Menurut Purbaya, kenaikan harga minyak yang terlalu tinggi akan memicu resesi ekonomi global. Ketika ekonomi melambat, permintaan terhadap minyak akan turun drastis, yang pada gilirannya akan menyebabkan harga jatuh kembali, bahkan bisa di bawah US$15 per barel jika tidak diantisipasi dengan baik. “Jadi kalau US$200 per barel saya bilang, ya paling mungkin sebentar, satu menit, dua menit, habis itu jatuh lagi. Ketika jatuh, ini akan jatuh ke bawah,” paparnya.
Dampak pada APBN dan Strategi Pemerintah
Meskipun harga minyak dunia saat ini sudah menembus US$100 per barel, Purbaya menyatakan bahwa angka tersebut sudah masuk dalam perhitungan pemerintah. Tingkat harga tersebut dinilai masih dapat dikelola dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tanpa menyebabkan defisit yang mengkhawatirkan. “Harga minyak 116 aja masih tenang-tenang aja kan?” ujarnya.
Purbaya menjelaskan bahwa defisit APBN berpotensi mencapai 3 persen jika harga minyak rata-rata berkisar US$100 per barel. Namun, pemerintah memiliki strategi mitigasi, termasuk pengaturan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) yang sudah dihitung untuk setahun penuh. Selain itu, pemerintah juga akan mengoptimalkan potensi keuntungan dari kenaikan harga komoditas atau windfall profit, serta melakukan efisiensi belanja dan peningkatan pendapatan negara.
Dengan berbagai kalkulasi dan langkah antisipasi tersebut, Purbaya optimis bahwa APBN akan tetap terjaga. Keyakinannya ini didukung oleh pengalaman masa lalu di mana pasar energi menunjukkan kemampuan adaptasi dan koreksi alami. Pemerintah akan terus memantau perkembangan situasi global dan siap menyesuaikan kebijakan jika diperlukan, namun sejauh ini, proyeksi ekonomi masih menunjukkan stabilitas.
📰 Source: CNN Indonesia Ekonomi