Tentu, ini drafnya:
Setelah satu dekade menemani penikmat horor Indonesia, semesta Danur akhirnya mencapai babak akhir. Namun, “Danur: The Last Chapter” justru menyisakan pertanyaan ketimbang kepuasan. Sulit rasanya menyebut film ini sebagai klimaks yang memukau, apalagi penutup yang berkesan setelah perjalanan panjang yang telah dilalui.
Loyalitas yang Terasa Hampa
Satu poin yang patut diacungi jempol dari serial Danur adalah konsistensi tim inti: sutradara Awi Suryadi, penulis naskah Lele Laila, dan bintang utamanya, Prilly Latuconsina. Mereka setia mendampingi perjalanan Risa dari awal hingga film yang diklaim sebagai penutup ini. Namun, loyalitas tersebut seolah tak berbanding lurus dengan perkembangan signifikan yang ditawarkan. Baik dari segi ide cerita, kualitas naskah, cara penyutradaraan, hingga sentuhan visual, semuanya terasa stagnan, hanya mengandalkan formula lama yang mulai kehilangan tajinya.
Jump Scare yang Daur Ulang
Cerita Risa yang digarap Lele Laila masih berkutat pada pola yang sama. Upaya menakut-nakuti penonton nyaris sepenuhnya bergantung pada jumpscare, tanpa dibalut narasi kuat yang layak disebut puncak, apalagi penutup dari saga Danur. Selama satu jam lebih film bergulir, hampir sepertiga durasi dihabiskan untuk menampilkan ketakutan Risa akan adiknya yang jelas-jelas menunjukkan tanda-tanda gangguan gaib. Rasanya sedikit janggal, mengingat Risa seharusnya sudah memiliki jam terbang tinggi dalam menghadapi dunia supranatural setelah tiga film sebelumnya.
Harapan adanya peningkatan sensitivitas Risa terhadap makhluk halus, seiring karirnya sebagai ASN yang digambarkan, justru pupus. Ia baru benar-benar bisa diandalkan di sekitar 20 menit terakhir film. Plot yang memposisikan Risa seolah amatir dalam urusan dunia gaib ini justru menimbulkan kekesalan. Ditambah lagi dengan karakter keluarga Risa yang terlihat pasrah dan tak punya insting bertahan hidup, lebih memilih berteriak meminta pertolongan daripada mencari solusi.
Penyegaran Visual yang Kurang Efektif
Di sisi penyutradaraan, Awi Suryadi menunjukkan sedikit upaya untuk memberikan elemen baru. Teknik pengambilan gambar yang lebih dinamis dan sentuhan visual yang lebih estetik—mulai dari pewarnaan, penataan set, hingga pencahayaan—memang patut diapresiasi. “Danur: The Last Chapter” berhasil menciptakan atmosfer yang gelap dan menegangkan. Namun, kesuksesan ini sayangnya tak sejalan dengan kekuatan naskah atau konsistensi karakter pendukung.
Salah satu yang cukup mengganggu adalah penampilan “teman-teman” Risa. Pergantian pemeran untuk karakter Peter cs dari film ke film selalu terjadi, namun tak kunjung menghadirkan tampilan yang meyakinkan sebagai roh anak keturunan Belanda. Bedak yang terlalu tebal dan wig kuning yang janggal membuat karakter ikonik ini justru terlihat seperti hasil kerja terburu-buru. Di tengah upaya penyegaran aspek teknis, abainya tim produksi terhadap detail krusial seperti ini terasa mengecewakan, apalagi ini adalah film penutup.
Prilly Latuconsina, sang pemeran Risa, tampaknya memang siap mengakhiri perannya. Performanya konsisten, namun ada kalanya ia terkesan menerima naskah begitu saja tanpa perlawanan atas nama karakter yang telah ia bangun selama satu dekade. Peran Risa di film ini terasa lebih pasif dibandingkan film-film drama Prilly lainnya yang menunjukkan keterlibatan total. Setidaknya, ia tak lagi berteriak kebingungan seperti di awal kemunculannya.
Meski demikian, dengan segala kekurangannya, “Danur: The Last Chapter” tetap membuka kemungkinan kelanjutan kisah Risa, entah dalam format yang berbeda atau dengan eksplorasi yang lebih mendalam. Pengalaman 10 tahun yang telah terukir tentu menjadi bekal berharga untuk refleksi ke depan.
📰 Source: CNN Indonesia Hiburan